Tangis Harap Ku Ayah
Ketika mentari tertutup awan gelap, rintik butir- butir air langit yang menetes berirama menari diatas atap rumahku. Hingga berjatuhan tampak olehku di depan jendela. Menatap awan gelap, teringatkan memori indah dahulu. Merenung meratapi masa kenangan lalu. Sudah lama tak kulihat wajah Ayahku. Terlintas sekejap sebuah kisah akanku ketika bersama Ayah dahulu.
Ketika itu aku duduk di kelas III SD. Masa itu, begitu manjanya aku pada Ayah. Setiap hari Ayah senantiasa menemaniku, mengajakku bercanda, tertawa, hingga menemani dan menceritakan dongeng sebelum tidur kepadaku. Terkadang Ayah memberiku kejutan yang tak pernah kuduga sebelumnya.
Seperti waktu itu, Ayah menjemputku tanpa aku tahu akan niatnya itu. Selepas aku melangkah meninggalkan gerbang sekolah, aku menatap sesosok pria yang kukenal. Ya, itu Ayahku. Ia melambaikan tangan padaku, beriringan dengan senyum penuh kehangatan kasih sayang padaku.
Kudekati dirinya, kubalas senyum hangat Ayah dengan kabar nilai ulanganku yang cukup memuaskan. Tersirat rasa bangga padaku tampak dari sorot matanya. Lalu dipeluknya aku erat, dan Ayah mengangkatku dan mendudukkanku di belakang sepeda. Lalu Ayah mengayuh sepeda menuju ke rumah dengan rasa bahagia.
Setibanya dirumah, Ayah menceritakan kabar bahagia itu kepada Ibu. Ibu pun merasa bahagia dan bangga akanku. Kenangan itu menjadi kenangan terindah dalam hidupku.
Namun, sekejap aku tersadar dari angan. Ayah kini tak lagi bersamaku. Ia pergi meninggalkan kami sejak dua tahun yang lalu. Tak ada kabar tentangnya hingga kini. Mengenang dirinya, tak terasa air mata telah mengalir berteman dengan turunnya hujan yang tampak di luar jendela rumahku. Sambil mengusap air mataku, kutengadahkan tatapan penuh harap ke langit. Beriring doa mengalun kusampaikan untuknya yang kini entah ada di mana berada. Kuharap untuknya tuk selalu ingat akanku dan Ibu yang senantiasa menantinya akan kedatangannya diantara kami kembali.












0 Pesan Kawan Petani:
Post a Comment